<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>shinelyght</title>
    <link>https://shinelyght.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 14:28:01 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Lipbalm, Lip Remover, Multifunction</title>
      <link>https://shinelyght.writeas.com/lipbalm-lip-remover-multifunction?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Chelsea dengan gengsi setinggi langitnya. Meskipun wanita itu mencak-mencak seolah tak mau dengan ajakan suaminya tapi ia bergegas mempercantik diri dengan polesan natural makeup dan sengaja lebih memerahkan bagian bibirnya. Bibir cantik yang selalu menjadi candu bagi Gama dipoles dengan liptint berperisa semangka. &#xA;&#xA;Pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok sang suami dengan napas tersengal-sengal. Kedua matanya terkunci saling adu tatap rayu, Chelsea mengaitkan anak rambutnya ke telinga malu dan Gama langsung melangkah cepat menuju istrinya. Tangannya menangkup kedua wajah Chelsea lalu menjamah bibir sang istri penuh gairah.&#xA;&#xA;Suara decakan memenuhi ruangan, keduanya saling beradu lidah dengan permainan bibir yang didominasi penuh oleh Gama. Chelsea memejam matanya rapat-rapat, berusaha mengimbangi Gama namun justru tubuh mungilnya sedikit terangkat. Mereka melepas sejenak bibirnya, tampak setarik benang saliva dari keduanya akibat perang lidah yang cukup intens. Gama menatap lekat tatapan sayu Chelsea, dengan gagah pria itu mengangkat tubuh istrinya seperti tuan putri lalu meletakannya ke atas ranjang mereka. &#xA;&#xA;&#34;Katanya cuman ciuman?&#34; bisik Chelsea yang terdengar seksi di telinga Gama.&#xA;&#xA;&#34;Kan kamu tahu kalau itu cuman bohong?&#34; balas Gama sedikit menggoda istrinya. Chelsea hanya mendecih pelan.&#xA;&#xA;&#34;Dasar pembohong,&#34; ucap Chelsea.&#xA;&#xA;&#34;Ini bohong untuk kebaikan, Chel.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kebaikan apaan, buat lo doang itu mah.&#34;&#xA;&#xA;Gama mendekatkan wajahnya, sedikit menghembus leher putih milik Chelsea hingga wanitanya mendesah panjang.&#xA;&#xA;&#34;Yakin nih, cuman buat kebaikan gue doang, hm?&#34; Gama mengecup pelan leher sang istri lalu menggigit pelan tanpa memberi bekas.&#xA;&#xA;&#34;Hhhh jangan bikin kiss mark di situ... besok pagi kan Mama mau ke rumah....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tinggal kamu tutup pake make up.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah males, Gam--Ah! Ssshhh....&#34; Bukan Gama kalau nurut, justru ia malah sengaja membuat bekas di leher istrinya di beberapa titik. Mau marah pun tak sanggup, karena Chelsea juga tak berdaya untuk melawan kenikmatannya saat ini. &#xA;&#xA;Dua tangan Gama yang menganggur beralih pada satu gundukkan berukuran besar milik sang istri dan juga bagian sensitif di bawah sana. Chelsea seolah dibawa terbang melayang, entah apa yang bisa mendeskripsikan nikmat yang ia rasakan. Tangan Chelsea mencengkram kuat di kedua bahu luas Gama, dengan kedua bibir mereka masih saling beradu penuh menuntut. Permainan Gama saat ini lebih cepat dari biasanya, sampai Chelsea menepuk-nepuk agar suaminya itu sedikit lebih gentle.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m sorry, queen,&#34; Gama mengecup kening Chelsea lembut.&#xA;&#xA;&#34;That&#39;s okay,&#34; Chelsea membalas kecupan singkat di bibir suaminya, lalu Gama kembali meraup bibir wanitanya dengan rakus. Ia bisa merasakan bagaimana manisnya semangka yang menyatu di bibir sang Chelsea sehingga itu membuatnya tak bisa melepas tautan mereka. Meskipun pasokan oksigen mereka sudah mulai habis, Gama masih belum mau memberi Chelsea kesempatan untuk bernapas dulu. Kedua tangan wanita cantik itu dikunci oleh satu tangan kekarnya di atas kepala. Gama melepas tautannya lebih dulu, membiarkan mereka sama-sama mengambil pasokan oksigen lebih banyak dan menatap lagi dalam rayu untuk mengagumi satu sama lain.&#xA;&#xA;Jantung Gama terasa ingin meledak begitu melihat bagaimana cantik dan menggodanya Chelsea dengan bibir merah yang sedikit membengkak, peluhnya  membasahi kening juga tatapan sayu nan lemah. Sang tuan tersenyum miring, ia mendekati telinga wanitanya sambil berbisik begitu seduktif.&#xA;&#xA;&#34;I will make you scream my name tonight, queen.&#34;&#xA;&#xA;Detak jantung Chelsea mendadak terhenti, ia menahan napasnya sambil memaling wajah karena malu.&#xA;&#xA;&#34;Di-di bawah ada anak-anak....&#34; ucap Chelsea gemetar.&#xA;&#xA;&#34;Mau setel lagu gak biar gak kedengeran?&#34; Gama langsung bangkit dan mengambil speaker JBL Go nya. &#xA;&#xA;&#34;Jangan gede-gede banget, nanti kedengeran tetangga gak enak!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya sayang, ngerti kok.&#34;&#xA;&#xA;Gama mengatur volumenya agar bisa menyesuaikan situasi, tak terlalu pelan untuk menutupi suara mereka nanti juga tak terlalu kencang sampai terdengar ke rumah sebelah. Gak lucu kalau tiba-tiba ada penggebrekan warga karena kegiatan panas mereka yang sudah sah di mata hukum.&#xA;&#xA;Lagu yang diputar adalah Collide - Justine Skye feat Tyga, sang wanita langsung tersenyum puas begitu mendengar lagu favoritnya. Gama langsung kembali menaiki ranjangnya dan mengangkat tubuh Chelsea untuk duduk menyandar ke dashboard ranjang king size-nya.&#xA;&#xA;Jemari kekar Gama mengelus pelan pipi lembut Chelsea sambil menatap kedua iris legam sang istri yang begitu indah dipandang. Kecantikan sang wanita kasih yang selalu ia kagumi dan takkan pernah bisa digantikan posisinya dalam singgasana hati. &#xA;&#xA;Semua yang ada pada Chelsea Audrey Wijaya itu sepenuhnya menjadi milik Gamaliel Arkananta.&#xA;&#xA;Entah berapa tahun pernikahan mereka sudah berjalan, tapi usia tidak pernah membuat kecantikan istrinya itu pudar. Entah memang istrinya yang pandai merawat diri atau memang di matanya Chelsea selalu cantik.&#xA;&#xA;&#34;Kamu tahu kan?&#34; Gama menangkup kedua sisi wajah Chelsea, &#34;Kamu itu anugerah yang selalu aku syukuri dalam hidup aku, semua tentang kamu itu selalu buat aku kagum.&#34;&#xA;&#xA;Suaminya itu memang pandai membuat Chelsea salah tingkah dari tiap kata-kata manis yang dilontarkan ataupun perlakuannya yang membuat ia merasa berharga. Chelsea terlalu malu untuk membalas tatapan hangat Gama sampai ia menundukkan kepalanya.&#xA;&#xA;&#34;Udah ish gombalnya... malu udah umur segini....&#34; pinta wanita berusia 33 tahun itu.&#xA;&#xA;&#34;Lho gombal mah gak mandang umur, Chel, nanti kalau kita udah kakek-nenek juga bakal aku gombalin terus kamu,&#34; goda Gama hingga Chelsea membalas dengan pukulan ringan di lengan Gama nan otot bisepnya yang terbentuk.&#xA;&#xA;Tangan Gama sudah beralih membuka kancing piyama satin milik Chelsea hingga terlepas sudah bagian atas wanitanya menampilkan bra hitam cantik, tapi itu tak dibutuhkan Gama sedikitpun. Ia melepas kaitan bra Chelsea dan justru menjauh sebentar untuk mengagumi tubuh istri tercintanya.&#xA;&#xA;&#34;Cantik,&#34; gumam pria itu sambil tersenyum tipis.&#xA;&#xA;Gama meraih rambut hitam panjang Chelsea dan menggenggamnya sejenak agar ia bisa menciumi leher putih nan jenjang itu. Chelsea memejam mata rapat-rapat, menikmati tiap sentuhan suaminya dan tangannya mengeratkan pelukan di leher Gama.&#xA;&#xA;Aroma manis vanilla dari parfum Chelsea sungguh memabukkan.&#xA;&#xA;Dari ciuman pelan sampai berubah jadi gigitan yang membuat sebuah &#39;bekas kepemilikan&#39;. Tak hanya di leher, Gama sengaja membuat bekasnya di tengah-tengah diantara dua buah dada istrinya. Bisa diperkirakan besok tanda-tanda di lehernya menjadi pr yang banyak untuk Chelsea besok.&#xA;&#xA;&#34;Gak adil kalo cuman kamu yang bikin tanda,&#34; tiba-tiba wanitanya itu menggerutu, Gama terkekeh geli dan akhirnya memberi ruang untuk Chelsea bebas melakukan apa saja terhadapnya.&#xA;&#xA;Biasanya Gama yang selalu mengambil kendali penuh di permainan panas mereka, dan sekarang pria itu membiarkan bagaimana Chelsea memperlakukannya.&#xA;&#xA;Chelsea merebahkan tubuh Gama dan posisi mereka saat ini didominasi oleh Chelsea yang duduk diatas Gama. Pria itu hanya menyeringai dan menyerahkan dirinya kepada sang istri. Tubuh Gama yang masih dibalut kaos itu langsung dipaksa lepas oleh Chelsea, meskipun usia Gama sudah hendak menginjak angka 4 ternyata gagahnya tak lekang oleh waktu. Siapapun pasti akan terpesona, dan yang membuat Chelsea sangat bersyukur bahwa Gamaliel Arkananta sepenuhnya milik dia. &#xA;&#xA;Jemari cantik nan lentik milik Chelsea sengaja memutar di dada bidang Gama hingga pria itu mendesis panjang. Chelsea menghembus napasnya yang hangat di telinga Gama, lalu menggigit pelan. Bibirnya menurun sambil usil mengecup lama di belakang telinga, beralih pada leher depan sesuai dengan tujuan utama Chelsea. Dia juga tak mau kalah untuk membuat tanda kepemilikan di leher sang suami.&#xA;&#xA;&#34;Jangan banyak-banyak, Chel, besok siang aku ada meeting sama Bagas.&#34;&#xA;&#xA;Wajah Chelsea berubah jadi cemberut, &#34;Ih, katanya mau nemenin aku belanja?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya abis meeting, paling lama beres jam 3 kok.&#34;&#xA;&#xA;Entah harus lega atau kesal, tapi Chelsea kembali fokus membuat tanda di beberapa titik leher Gama. Melihat tingkah istrinya yang sibuk dengan kegiatannya membuat Gama gemas, meski begitu kepalanya memutar otak untuk pakaian besok yang ia kenakan. Pasalnya, untuk memakai turtle neck sweater di cuaca panas ini pasti menimbulkan curiga.&#xA;&#xA;Sudahlah, lebih baik nikmati momen saat ini saja.&#xA;&#xA;Gama langsung membalik tubuh mungil Chelsea dan mengambil alih lagi permainannya. Mereka berdua tertawa, dan tangan Gama cepat menarik semua balutan yang menutupi bagian bawah Chelsea. Begitupun Chelsea juga melepas semua yang menutupi bagian bawah Gama.&#xA;&#xA;&#34;Kayaknya malam ini kamu lebih agresif deh, Chel,&#34; bisik Gama.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, kan aku emang orangnya gak pernah mau kalah,&#34; balas Chelsea dengan ekspresi tengil khasnya.&#xA;&#xA;Gama justru semakin menahan kuat kedua tangan Chelsea sampai wanitanya dibuat tak berdaya dalam kurungannya. &#xA;&#xA;&#34;Oke kalo gitu tapi maaf ya, aku orangnya kompetitif, Chel.&#34;&#xA;&#xA;Kedua bibir mereka kembali saling bercumbu dan memperdalam ciumannya yang begitu panas. Gama memperdalam ciumannya dan menelusupkan lidahnya untuk mengabsen bagian dalam mulut Chelsea. Begitu tautan bibir mereka terlepas, Gama mengalihkan perhatiannya pada dua bongkahan sintal yang terpampang tepat di hadapannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Gama melahap satu dadanya dan satu tangan yang menganggur meremas dada sebelahnya.&#xA;&#xA;&#34;AH! Ga-Gama...! Haahhh....!&#34; Chelsea memekik kaget. Kedua tangannya tidak diberi leluasa sedikitpun, satu tangan kekar Gama ternyata cukup kuat untuk menahan dua tangan milik Chelsea. Wanita itu merasa kalah telak kalau soal tenaga.&#xA;&#xA;Tubuhnya terus menggeliat geli dengan perlakuan Gama. Begitu prianya menyudahi kegiatan mereka dan melihat bagaimana ekspresi Chelsea sekarang, Gama tersenyum puas. Ekspresi Chelsea yang begitu indah ini hanya bisa dilihat oleh Gama seorang.&#xA;&#xA;Setelah menjamah bagian atas kini giliran bagian bawah Chelsea yang sudah basah sejak tadi, bahkan bagi Gama ini lebih basah dari biasanya. Satu jemarinya mulai memasuki bagian inti dan Chelsea mendesah panjang, tak lama Gama menggunakan dua dan tiga jari untuk bermain-main dibawah sana. Kedua tangan Chelsea yang tertahan mulai terasa kebas dan yang bisa dilakukan wanita itu hanya bisa pasrah.&#xA;&#xA;&#34;Hah... aku kalah..... sshhhh....&#34; Chelsea mengakui kekalahannya dan membuat Gama tertawa puas.&#xA;&#xA;&#34;Masa gini doang kalah,&#34; ejek Gama.&#xA;&#xA;&#34;Kamu mainnya tenaga, gak adil,&#34; balas Chelsea dengan nada ketus.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah mau gantian nih kamu diatas?&#34; tawar Gama yang sebenarnya tak serius, hanya untuk menyenangkan hati sang istri.&#xA;&#xA;&#34;Au deh udah keburu males juga, udah aku pasrah aja!&#34;&#xA;&#xA;Mendapat lampu hijau dari istrinya, Gama mempercepat tempo permainan jarinya dan melepas kedua tangan Chelsea agar bisa berpegangan di bahunya. Chelsea terus mendesahkan nama Gama sampai semi menjerit, untung saja lagu yang dinyalakan itu volumenya lumayan besar untuk menutupi suara sang istri. Ruangan itu juga dijamin kedap suaranya asalkan tidak terbuka pintunya atau tidak menjerit terlalu keras tapi mereka tetap antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Bisa saja mereka ceroboh, bukan?&#xA;&#xA;&#34;Gama....!! Gamaahh... ah! ah! sshhh....!&#34;&#xA;&#xA;Gama mencumbu bibir istrinya kembali lalu melepasnya.&#xA;&#xA;&#34;Ini udah basah banget, langsung ke inti aja ya?&#34; pinta Gama dan langsung diiyakan oleh Chelsea. &#xA;&#xA;Gama melebarkan paha Chelsea dan menaikkannya di bahu, ia mengurut pelan kejantanannya dan mulai menyentuh seolah mengetuk bagian bawah istrinya. Chelsea mendesah pelan, rasanya dinding rahimnya terus menarik kejantanan Gama ke dalam yang beriringan dengan tempo yang diberikan Gama. Pria itu perlahan memaju-mundurkan bagian bawahnya sampai kedua inti mereka sudah menyatu sempurna, Gama mempercepat genjotan pinggulnya sampai di titik kepuasan Chelsea. &#xA;&#xA;&#34;Ah, Gam! Gamaaa!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ssshh... Chel!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gamaaa! Gam!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Chel, I love you so much!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hhhh...!&#34;&#xA;&#xA;Chelsea mengalungkan tangannya di leher Gama, suara decitan ranjang dan peraduan kulit mereka seolah saling bersahut mengisi ruangan. Kini lagu yang terputar sudah beralih dengan lagu Light a Flame milik SEVENTEEN favorit Chelsea. &#xA;&#xA;Malam ini menjadi malam panas yang sempurna.&#xA;&#xA;Gama merubah posisi menjadi duduk dan kini permainan didominasi oleh Chelsea. Pria itu seolah memberi kesempatan bagi istrinya yang memimpin permainan panas mereka, dan keputusan itu tidaklah buruk. Chelsea dengan mode &#39;agresif&#39; saat ini membuat Gama semakin bergairah. &#xA;&#xA;&#34;Gam... hah... capek...!&#34;&#xA;&#xA;Cepat Gama mengambil alih lagi dan merebahkan tubuh Chelsea di bawah kurungannya. Tanpa ampun pria itu mempercepat temponya untuk segera sampai ke puncak nikmatnya. Begitu terasa semakin sesak bagian bawahnya, Gama mempererat pelukannya dan membiarkan cairan hangat meluruh semuanya di dalam rahim Chelsea. Keduanya mengatur napas masing-masing, tubuh Gama langsung rubuh di samping Chelsea dan melepas tautan tubuh mereka. Gama menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan tak lama Chelsea memejam matanya yang lelah.&#xA;&#xA;&#34;Chel? Ke kamar mandi dulu gih bersih-bersih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bentar dulu ah capek, kamu duluan aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ayo bareng aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah gak mau nanti malah jadi ronde kedua di kamar mandi! Kamu duluan sana mandii...!!&#34;&#xA;&#xA;Chelsea mendorong tubuh suaminya jauh-jauh. Kalimatnya barusan tak sepenuhnya salah, jadi Gama lebih baik menuruti apa yang dikatakan istrinya.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah kalo abis aku bersih-bersih kamu gak bangun juga, beneran jadi ronde kedua, Chel.&#34;&#xA;&#xA;&#34;COWOK SINTING, BURUAN BERSIH-BERSIH SANA!!!&#34;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Chelsea dengan gengsi setinggi langitnya. Meskipun wanita itu mencak-mencak seolah tak mau dengan ajakan suaminya tapi ia bergegas mempercantik diri dengan polesan <em>natural makeup</em> dan sengaja lebih memerahkan bagian bibirnya. Bibir cantik yang selalu menjadi candu bagi Gama dipoles dengan <em>liptint</em> berperisa semangka.</p>

<p>Pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok sang suami dengan napas tersengal-sengal. Kedua matanya terkunci saling adu tatap rayu, Chelsea mengaitkan anak rambutnya ke telinga malu dan Gama langsung melangkah cepat menuju istrinya. Tangannya menangkup kedua wajah Chelsea lalu menjamah bibir sang istri penuh gairah.</p>

<p>Suara decakan memenuhi ruangan, keduanya saling beradu lidah dengan permainan bibir yang didominasi penuh oleh Gama. Chelsea memejam matanya rapat-rapat, berusaha mengimbangi Gama namun justru tubuh mungilnya sedikit terangkat. Mereka melepas sejenak bibirnya, tampak setarik benang saliva dari keduanya akibat perang lidah yang cukup intens. Gama menatap lekat tatapan sayu Chelsea, dengan gagah pria itu mengangkat tubuh istrinya seperti tuan putri lalu meletakannya ke atas ranjang mereka.</p>

<p>“Katanya cuman ciuman?” bisik Chelsea yang terdengar seksi di telinga Gama.</p>

<p>“Kan kamu tahu kalau itu cuman bohong?” balas Gama sedikit menggoda istrinya. Chelsea hanya mendecih pelan.</p>

<p>“Dasar pembohong,” ucap Chelsea.</p>

<p>“Ini bohong untuk kebaikan, Chel.”</p>

<p>“Kebaikan apaan, buat lo doang itu mah.”</p>

<p>Gama mendekatkan wajahnya, sedikit menghembus leher putih milik Chelsea hingga wanitanya mendesah panjang.</p>

<p>“Yakin nih, cuman buat kebaikan gue doang, hm?” Gama mengecup pelan leher sang istri lalu menggigit pelan tanpa memberi bekas.</p>

<p>“Hhhh jangan bikin <em>kiss mark</em> di situ... besok pagi kan Mama mau ke rumah....”</p>

<p>“Tinggal kamu tutup pake make up.”</p>

<p>“Ah males, Gam—Ah! Ssshhh....” Bukan Gama kalau nurut, justru ia malah sengaja membuat bekas di leher istrinya di beberapa titik. Mau marah pun tak sanggup, karena Chelsea juga tak berdaya untuk melawan kenikmatannya saat ini.</p>

<p>Dua tangan Gama yang menganggur beralih pada satu gundukkan berukuran besar milik sang istri dan juga bagian sensitif di bawah sana. Chelsea seolah dibawa terbang melayang, entah apa yang bisa mendeskripsikan nikmat yang ia rasakan. Tangan Chelsea mencengkram kuat di kedua bahu luas Gama, dengan kedua bibir mereka masih saling beradu penuh menuntut. Permainan Gama saat ini lebih cepat dari biasanya, sampai Chelsea menepuk-nepuk agar suaminya itu sedikit lebih <em>gentle.</em></p>

<p><em>“I&#39;m sorry, queen,”</em> Gama mengecup kening Chelsea lembut.</p>

<p><em>“That&#39;s okay,</em>” Chelsea membalas kecupan singkat di bibir suaminya, lalu Gama kembali meraup bibir wanitanya dengan rakus. Ia bisa merasakan bagaimana manisnya semangka yang menyatu di bibir sang Chelsea sehingga itu membuatnya tak bisa melepas tautan mereka. Meskipun pasokan oksigen mereka sudah mulai habis, Gama masih belum mau memberi Chelsea kesempatan untuk bernapas dulu. Kedua tangan wanita cantik itu dikunci oleh satu tangan kekarnya di atas kepala. Gama melepas tautannya lebih dulu, membiarkan mereka sama-sama mengambil pasokan oksigen lebih banyak dan menatap lagi dalam rayu untuk mengagumi satu sama lain.</p>

<p>Jantung Gama terasa ingin meledak begitu melihat bagaimana cantik dan menggodanya Chelsea dengan bibir merah yang sedikit membengkak, peluhnya  membasahi kening juga tatapan sayu nan lemah. Sang tuan tersenyum miring, ia mendekati telinga wanitanya sambil berbisik begitu seduktif.</p>

<p><em>“I will make you scream my name tonight, queen.”</em></p>

<p>Detak jantung Chelsea mendadak terhenti, ia menahan napasnya sambil memaling wajah karena malu.</p>

<p>“Di-di bawah ada anak-anak....” ucap Chelsea gemetar.</p>

<p>“Mau setel lagu gak biar gak kedengeran?” Gama langsung bangkit dan mengambil speaker JBL Go nya.</p>

<p>“Jangan gede-gede banget, nanti kedengeran tetangga gak enak!”</p>

<p>“Iya sayang, ngerti kok.”</p>

<p>Gama mengatur volumenya agar bisa menyesuaikan situasi, tak terlalu pelan untuk menutupi suara mereka nanti juga tak terlalu kencang sampai terdengar ke rumah sebelah. Gak lucu kalau tiba-tiba ada penggebrekan warga karena kegiatan panas mereka yang sudah sah di mata hukum.</p>

<p>Lagu yang diputar adalah Collide – Justine Skye feat Tyga, sang wanita langsung tersenyum puas begitu mendengar lagu favoritnya. Gama langsung kembali menaiki ranjangnya dan mengangkat tubuh Chelsea untuk duduk menyandar ke <em>dashboard</em> ranjang <em>king size</em>-nya.</p>

<p>Jemari kekar Gama mengelus pelan pipi lembut Chelsea sambil menatap kedua iris legam sang istri yang begitu indah dipandang. Kecantikan sang wanita kasih yang selalu ia kagumi dan takkan pernah bisa digantikan posisinya dalam singgasana hati.</p>

<p>Semua yang ada pada Chelsea Audrey Wijaya itu sepenuhnya menjadi milik Gamaliel Arkananta.</p>

<p>Entah berapa tahun pernikahan mereka sudah berjalan, tapi usia tidak pernah membuat kecantikan istrinya itu pudar. Entah memang istrinya yang pandai merawat diri atau memang di matanya Chelsea selalu cantik.</p>

<p>“Kamu tahu kan?” Gama menangkup kedua sisi wajah Chelsea, “Kamu itu anugerah yang selalu aku syukuri dalam hidup aku, semua tentang kamu itu selalu buat aku kagum.”</p>

<p>Suaminya itu memang pandai membuat Chelsea salah tingkah dari tiap kata-kata manis yang dilontarkan ataupun perlakuannya yang membuat ia merasa berharga. Chelsea terlalu malu untuk membalas tatapan hangat Gama sampai ia menundukkan kepalanya.</p>

<p>“Udah ish gombalnya... malu udah umur segini....” pinta wanita berusia 33 tahun itu.</p>

<p>“Lho gombal mah gak mandang umur, Chel, nanti kalau kita udah kakek-nenek juga bakal aku gombalin terus kamu,” goda Gama hingga Chelsea membalas dengan pukulan ringan di lengan Gama nan otot bisepnya yang terbentuk.</p>

<p>Tangan Gama sudah beralih membuka kancing piyama satin milik Chelsea hingga terlepas sudah bagian atas wanitanya menampilkan bra hitam cantik, tapi itu tak dibutuhkan Gama sedikitpun. Ia melepas kaitan bra Chelsea dan justru menjauh sebentar untuk mengagumi tubuh istri tercintanya.</p>

<p>“Cantik,” gumam pria itu sambil tersenyum tipis.</p>

<p>Gama meraih rambut hitam panjang Chelsea dan menggenggamnya sejenak agar ia bisa menciumi leher putih nan jenjang itu. Chelsea memejam mata rapat-rapat, menikmati tiap sentuhan suaminya dan tangannya mengeratkan pelukan di leher Gama.</p>

<p>Aroma manis vanilla dari parfum Chelsea sungguh memabukkan.</p>

<p>Dari ciuman pelan sampai berubah jadi gigitan yang membuat sebuah &#39;bekas kepemilikan&#39;. Tak hanya di leher, Gama sengaja membuat bekasnya di tengah-tengah diantara dua buah dada istrinya. Bisa diperkirakan besok tanda-tanda di lehernya menjadi pr yang banyak untuk Chelsea besok.</p>

<p>“Gak adil kalo cuman kamu yang bikin tanda,” tiba-tiba wanitanya itu menggerutu, Gama terkekeh geli dan akhirnya memberi ruang untuk Chelsea bebas melakukan apa saja terhadapnya.</p>

<p>Biasanya Gama yang selalu mengambil kendali penuh di permainan panas mereka, dan sekarang pria itu membiarkan bagaimana Chelsea memperlakukannya.</p>

<p>Chelsea merebahkan tubuh Gama dan posisi mereka saat ini didominasi oleh Chelsea yang duduk diatas Gama. Pria itu hanya menyeringai dan menyerahkan dirinya kepada sang istri. Tubuh Gama yang masih dibalut kaos itu langsung dipaksa lepas oleh Chelsea, meskipun usia Gama sudah hendak menginjak angka 4 ternyata gagahnya tak lekang oleh waktu. Siapapun pasti akan terpesona, dan yang membuat Chelsea sangat bersyukur bahwa Gamaliel Arkananta sepenuhnya milik dia.</p>

<p>Jemari cantik nan lentik milik Chelsea sengaja memutar di dada bidang Gama hingga pria itu mendesis panjang. Chelsea menghembus napasnya yang hangat di telinga Gama, lalu menggigit pelan. Bibirnya menurun sambil usil mengecup lama di belakang telinga, beralih pada leher depan sesuai dengan tujuan utama Chelsea. <strong><em>Dia juga tak mau kalah untuk membuat tanda kepemilikan di leher sang suami.</em></strong></p>

<p>“Jangan banyak-banyak, Chel, besok siang aku ada meeting sama Bagas.”</p>

<p>Wajah Chelsea berubah jadi cemberut, “Ih, katanya mau nemenin aku belanja?!”</p>

<p>“Iya abis meeting, paling lama beres jam 3 kok.”</p>

<p>Entah harus lega atau kesal, tapi Chelsea kembali fokus membuat tanda di beberapa titik leher Gama. Melihat tingkah istrinya yang sibuk dengan kegiatannya membuat Gama gemas, meski begitu kepalanya memutar otak untuk pakaian besok yang ia kenakan. Pasalnya, untuk memakai <em>turtle neck sweater</em> di cuaca panas ini pasti menimbulkan curiga.</p>

<p>Sudahlah, lebih baik nikmati momen saat ini saja.</p>

<p>Gama langsung membalik tubuh mungil Chelsea dan mengambil alih lagi permainannya. Mereka berdua tertawa, dan tangan Gama cepat menarik semua balutan yang menutupi bagian bawah Chelsea. Begitupun Chelsea juga melepas semua yang menutupi bagian bawah Gama.</p>

<p>“Kayaknya malam ini kamu lebih agresif deh, Chel,” bisik Gama.</p>

<p>“Gapapa, kan aku emang orangnya gak pernah mau kalah,” balas Chelsea dengan ekspresi <em>tengil</em> khasnya.</p>

<p>Gama justru semakin menahan kuat kedua tangan Chelsea sampai wanitanya dibuat tak berdaya dalam kurungannya.</p>

<p>“Oke kalo gitu tapi maaf ya, aku orangnya kompetitif, Chel.”</p>

<p>Kedua bibir mereka kembali saling bercumbu dan memperdalam ciumannya yang begitu panas. Gama memperdalam ciumannya dan menelusupkan lidahnya untuk mengabsen bagian dalam mulut Chelsea. Begitu tautan bibir mereka terlepas, Gama mengalihkan perhatiannya pada dua bongkahan sintal yang terpampang tepat di hadapannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Gama melahap satu dadanya dan satu tangan yang menganggur meremas dada sebelahnya.</p>

<p>“AH! Ga-Gama...! Haahhh....!” Chelsea memekik kaget. Kedua tangannya tidak diberi leluasa sedikitpun, satu tangan kekar Gama ternyata cukup kuat untuk menahan dua tangan milik Chelsea. Wanita itu merasa kalah telak kalau soal tenaga.</p>

<p>Tubuhnya terus menggeliat geli dengan perlakuan Gama. Begitu prianya menyudahi kegiatan mereka dan melihat bagaimana ekspresi Chelsea sekarang, Gama tersenyum puas. Ekspresi Chelsea yang begitu indah ini hanya bisa dilihat oleh Gama seorang.</p>

<p>Setelah menjamah bagian atas kini giliran bagian bawah Chelsea yang sudah basah sejak tadi, bahkan bagi Gama ini lebih basah dari biasanya. Satu jemarinya mulai memasuki bagian inti dan Chelsea mendesah panjang, tak lama Gama menggunakan dua dan tiga jari untuk bermain-main dibawah sana. Kedua tangan Chelsea yang tertahan mulai terasa kebas dan yang bisa dilakukan wanita itu hanya bisa pasrah.</p>

<p>“Hah... aku kalah..... sshhhh....” Chelsea mengakui kekalahannya dan membuat Gama tertawa puas.</p>

<p>“Masa gini doang kalah,” ejek Gama.</p>

<p>“Kamu mainnya tenaga, gak adil,” balas Chelsea dengan nada ketus.</p>

<p>“Yaudah mau gantian nih kamu diatas?” tawar Gama yang sebenarnya tak serius, hanya untuk menyenangkan hati sang istri.</p>

<p>“Au deh udah keburu males juga, udah aku pasrah aja!”</p>

<p>Mendapat lampu hijau dari istrinya, Gama mempercepat tempo permainan jarinya dan melepas kedua tangan Chelsea agar bisa berpegangan di bahunya. Chelsea terus mendesahkan nama Gama sampai semi menjerit, untung saja lagu yang dinyalakan itu volumenya lumayan besar untuk menutupi suara sang istri. Ruangan itu juga dijamin kedap suaranya asalkan tidak terbuka pintunya atau tidak menjerit terlalu keras tapi mereka tetap antisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Bisa saja mereka ceroboh, bukan?</p>

<p>“Gama....!! Gamaahh... ah! ah! sshhh....!”</p>

<p>Gama mencumbu bibir istrinya kembali lalu melepasnya.</p>

<p>“Ini udah basah banget, langsung ke inti aja ya?” pinta Gama dan langsung diiyakan oleh Chelsea.</p>

<p>Gama melebarkan paha Chelsea dan menaikkannya di bahu, ia mengurut pelan kejantanannya dan mulai menyentuh seolah mengetuk bagian bawah istrinya. Chelsea mendesah pelan, rasanya dinding rahimnya terus menarik kejantanan Gama ke dalam yang beriringan dengan tempo yang diberikan Gama. Pria itu perlahan memaju-mundurkan bagian bawahnya sampai kedua inti mereka sudah menyatu sempurna, Gama mempercepat genjotan pinggulnya sampai di titik kepuasan Chelsea.</p>

<p>“Ah, Gam! Gamaaa!”</p>

<p>“Ssshh... Chel!”</p>

<p>“Gamaaa! Gam!”</p>

<p>“Chel, <em>I love you so much!</em>“</p>

<p>“Hhhh...!”</p>

<p>Chelsea mengalungkan tangannya di leher Gama, suara decitan ranjang dan peraduan kulit mereka seolah saling bersahut mengisi ruangan. Kini lagu yang terputar sudah beralih dengan lagu Light a Flame milik SEVENTEEN favorit Chelsea.</p>

<p>Malam ini menjadi malam panas yang sempurna.</p>

<p>Gama merubah posisi menjadi duduk dan kini permainan didominasi oleh Chelsea. Pria itu seolah memberi kesempatan bagi istrinya yang memimpin permainan panas mereka, dan keputusan itu tidaklah buruk. Chelsea dengan mode &#39;agresif&#39; saat ini membuat Gama semakin bergairah.</p>

<p>“Gam... hah... capek...!”</p>

<p>Cepat Gama mengambil alih lagi dan merebahkan tubuh Chelsea di bawah kurungannya. Tanpa ampun pria itu mempercepat temponya untuk segera sampai ke puncak nikmatnya. Begitu terasa semakin sesak bagian bawahnya, Gama mempererat pelukannya dan membiarkan cairan hangat meluruh semuanya di dalam rahim Chelsea. Keduanya mengatur napas masing-masing, tubuh Gama langsung rubuh di samping Chelsea dan melepas tautan tubuh mereka. Gama menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka dan tak lama Chelsea memejam matanya yang lelah.</p>

<p>“Chel? Ke kamar mandi dulu gih bersih-bersih.”</p>

<p>“Bentar dulu ah capek, kamu duluan aja.”</p>

<p>“Ayo bareng aja.”</p>

<p>“Ah gak mau nanti malah jadi ronde kedua di kamar mandi! Kamu duluan sana mandii...!!”</p>

<p>Chelsea mendorong tubuh suaminya jauh-jauh. Kalimatnya barusan tak sepenuhnya salah, jadi Gama lebih baik menuruti apa yang dikatakan istrinya.</p>

<p>“Yaudah kalo abis aku bersih-bersih kamu gak bangun juga, beneran jadi ronde kedua, Chel.”</p>

<p>“COWOK SINTING, BURUAN BERSIH-BERSIH SANA!!!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://shinelyght.writeas.com/lipbalm-lip-remover-multifunction</guid>
      <pubDate>Fri, 05 May 2023 17:20:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Thirsty, she said</title>
      <link>https://shinelyght.writeas.com/thirsty-she-said?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Chelsea tak berhenti mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh dan tanda-tanda kedatangan suaminya masih tak ada. Ia berlari memastikan kedua buah hatinya tertidur lelap, karena takut bahwa malam ini akan terjadi sebuah unexpected situation.&#xA;&#xA;Dari luar pria itu tampak sangat lembut, tenang dan diam tapi kalau sekali saja Chelsea memancing singa yang tertidur dalam jiwa Gama, jangan harap hari akan berakhir singkat. Bayangkan saja hanya karena satu kalimat yang bahkan Gama tuangkan sendiri di novelnya tapi Chelsea yang mengucapkan kalimat itu sebagai satu pancingan, Gama tak segan bergerak cepat untuk pulang. &#xA;&#xA;Tatkala rasa gundah itu berlangsung panjang, suara mobil yang selesai diparkirkan depan garasi rumahnya refleks membuat Chelsea menegup salivanya bulat-bulat. Dari jendela tampak langkah suaminya itu terburu-buru dan ketukan pintu keras itu langsung disambut Chelsea.&#xA;&#xA;&#34;Hai,&#34; Chelsea menyapa dengan kikuk, lekukkan senyuman miring terlukis di dua sudut bibir pria gagah di hadapannya, &#34;Kamu capek banget ya abis perjalanan jauh? Aku abis bikinin kamu chamomile tea nih--&#34;&#xA;&#xA;Gama menarik pergelangan tangan Chelsea mendekat, kini hembusan napas hangat keduanya saling beradu dengan tatapan legam yang lekat itu saling mengunci. Kepala Chelsea membayangkan bagaimana ekspresi wajah Gama yang lembut dan hangat itu biasa ditampakkan seketika malam ini berubah menjadi gelap dan picik, bagaikan seorang singa yang lapar dan menatap santapan malamnya penuh gairah.&#xA;&#xA;&#34;You said that you are thirsty, right?&#34; Jemari besar Gama mengelus pelan pipi istrinya dan perlahan menurun sampai tepat di bawah dagu, &#34;Can you explain what kind of thirsty, honey?&#34;&#xA;&#xA;&#34;I-Itu aku baca pick-up line yang ada di novel terbaru kamu....&#34; jawab Chelsea gemetar.&#xA;&#xA;&#34;Okay so....&#34; Gama mendekat ke telinga wanitanya, &#34;You want to do for the next part, queen?&#34; bisikkan sang tuan yang seduktif itu membuat aliran darah Chelsea berdesir panas. Tempo detak jantungnya sudah tak mengikuti irama, sampai satu tangannya diraih oleh Gama, dengan tatapan smirk menggodanya Gama mengecup punggung tangan sang istri.&#xA;&#xA;&#34;You want to take that as a question or my order?&#34;&#xA;&#xA;&#34;What if i say nothing?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Then i will take that as order,&#34; Gama menggendong tubuh Chelsea bak tuan putri dan membawanya ke kamar mereka. Tangannya perlahan menidurkan Chelsea dan mengukung tubuh mungilnya dengan dua tangannya, dari bawah Chelsea menatap tiap perlakuan suaminya itu. Benar, apapun jawaban yang diberikan Chelsea tak ada gunanya, yes or no, he will take it as yes. Tangan Gama membuka satu per satu kancing kemeja putihnya, Chelsea hendak bangkit untuk membantu tapi justru tangannya ditepis, ia kembali menidurkan tubuh wanitanya sambil menatap tajam.&#xA;&#xA;&#34;Aku bisa sendiri,&#34; Tubuh atletisnya terekspos di hadapan Chelsea, memacu detak jantung wanita itu lebih cepat seperti habis lari marathon. Gama merendahkan tubuhnya sampai dua bibir mereka bertemu untuk saling bertukar kehangatan. Mata Chelsea yang membesar perlahan memejam, satu tangan Gama yang menganggur digunakan untuk menyusup ke bawah silk dress Chelsea.&#xA;&#xA;&#34;Wait, kamu gak pakai bra ya?&#34; tanya Gama sambil terkekeh.&#xA;&#xA;&#34;Emang daritadi gak kelihatan aku gak pakai apa-apa?&#34; tanya Chelsea malu.&#xA;&#xA;Gama tersenyum miring lagi, &#34;Well that&#39;s great.&#34;&#xA;&#xA;Jemari besarnya bertemu pada dua gundukan, Chelsea menahan napasnya. Ekspresi Chelsea dengan wajahnya yang memerah setiap tangan sang tuan berhasil menyentuh tiap inci tubuhnya adalah favorit Gama. Wanitanya tampak menahan desah, &#34;Just moan my name, you don&#39;t have to hold it, queen.&#34;&#xA;&#xA;Chelsea melepas desah panjangnya, &#34;Gama....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Good girl.&#34;&#xA;&#xA;Gama kembali mengecup bibir merah nan adiktif milik wanita kasih, kecupan-kecupan hangat itu berubah menjadi menuntut dan penuh gairah. Chelsea menepuk-nepuk pundak Gama untuk meminta waktu sebentar meraup oksigen yang hampir habis. Wanita itu juga memberi kode kepada suaminya agar lampu kamar dimatikan lebih dulu, ia tidak suka berhubungan dalam keadaan terang seperti sekarang. &#xA;&#xA;&#34;Aku mau lihat kamu, Chel,&#34; bujuk Gama.&#xA;&#xA;&#34;Please, no, nyalain aja lampu kristalnya kalau mau,&#34; tolak Chelsea.&#xA;&#xA;&#34;Kenapaaa? Please kamu cantik banget sekarang soalnya....&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gama ish!&#34; Chelsea mendengkus sebal.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah iya, iyaa....&#34; Gama bergerak mematikan lampu kamarnya lalu men-setting lampu kristal yang ditunjuk istrinya agar sedikit lebih terang. Chelsea mendesis lagi, akhirnya Gama menuruti apa kemauan wanitanya untuk meredupkan lampu kristalnya, tak lupa juga ia memastikan agar pintu kamar terkunci rapat. Mereka tidak mau kegiatan panasnya itu terhenti karena insiden konyol, bukan begitu?&#xA;&#xA;&#34;Ini bisa diturunin lagi gak suhu AC-nya? Panas banget,&#34; pinta Chelsea lagi namun tak diindahkan suaminya.&#xA;&#xA;&#34;I will make this room more hotter, Chel,&#34; tanpa ba-bi-bu Gama meraup lagi bibir Chelsea sampai wanitanya sedikit terhentak. Tangan besar Gama mengelus pelan pucuk kepala Chelsea lalu menurun sampai pipi lembutnya. Chelsea mengikuti bagaimana permainan Gama dalam bertarung tukar saliva, lidah Gama menerobos masuk mulut Chelsea dan mengabsen tiap giginya begitupun lidah Chelsea yang ikut mengait di lidah Gama. Seperti yang dikatakan Gama barusan, suhu ruangan mereka menjadi lebih panas dari sebelumnya. Rasanya Chelsea ingin menurunkan dulu suhu AC-nya sebelum melanjutkan kegiatan panas mereka tapi tubuhnya terus ditahan oleh tubuh Gama yang tenaganya luar biasa. &#xA;&#xA;Gama menggigit bawah bibir istrinya dan berlanjut ke bawah, ia bubuhkan sebuah tanda kepemilikan di leher sisi kanan Chelsea. &#xA;&#xA;&#34;Gam jangan bikin tanda disitu nanti kelihatan--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang siapa yang mau lihat?&#34;&#xA;&#xA;Chelsea tertegun, &#34;Ya-ya anak-anak, semuanya.&#34;&#xA;&#xA;Gama terkekeh, &#34;Tinggal jawab aja ini tanda dari papihnya jadi gak boleh diambil siapapun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ish jangan ngajarin yang enggak-enggak!&#34;&#xA;&#xA;Gama menyeringai jahil.&#xA;&#xA;Silk off-shoulder dress milik Chelsea dianggap mengganggu, Gama menariknya ke bawah sampai tubuh polos sang istri yang selalu ia kagumi itu terekspos depan matanya. Pria itu tak pernah bosan mengagumi betapa cantiknya tiap inci wajah juga tubuh yang dimiliki Chelsea, tak ada rasa tak senang setiap ia bersama sang istri. Chelsea adalah anugerah terindah yang pernah ada di hidupnya. Pernikahan yang diawali dengan ketidaksengajaan itu berubah menjadi takdir yang selalu ia syukuri, bersanding dengan wanita yang luar biasa dan memiliki dua permata hati yang mewarnai kehidupannya.&#xA;&#xA;Chelsea is blessing.&#xA;&#xA;Tatapan dalam dan penuh makna itu membuat wajah Chelsea semakin memerah. Ia merasa malu namun bahagia dalam satu waktu, seolah Gama hanya terpana oleh pesonanya. Tak ada yang lain. &#xA;&#xA;Tangan Gama membelai paha bagian dalam Chelsea, memberikan sedikit setruman nikmat sampai tubuh wanitanya itu menggeliat. Satu tangan Gama menahan dua tangan mungil ke atas, ia hanya tersenyum puas melihat bagaimana ekspresi Chelsea yang gelisah.&#xA;&#xA;&#34;Chel,&#34; Gama mendekat ke telinga Chelsea, meniupkannya usil hingga gadis itu mendesah panjang lagi, &#34;Besok aku gak ada schedule apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terus... kenapa?&#34; Chelsea kesusahan menjawab karena dua jemari Gama sudah menyusup ke dalam bawah sana, bermain-main hingga wanita itu terus bergerak gelisah.&#xA;&#xA;&#34;Let&#39;s stay like this more longer,&#34; Gama menusukkan lagi jemarinya sampai Chelsea sedikit memekik. Pikiran wanita cantik itu sudah melayang entah ke langit mana, berharap ada puncak kenikmatan yang segera menjemputnya namun jemari panjang nan besar milik Gama masih tak berhenti menari di bawah sana. Dua tangannya yang ditahan akhirnya bebas dan Chelsea segera mencengkram kuat bahu pria kasihnya, melampiaskan semua rasa yang bercampur aduk dalam dada juga bawah perutnya itu. Matanya terus merem-melek menikmati tiap pergerakan yang dibawa Gama.&#xA;&#xA;&#34;Ga-Gam, aku... akh!&#34; Begitu Chelsea hendak di puncaknya, Gama justru menarik jemarinya, &#34;Gamaaaaaa?!&#34; Chelsea mendecak kesal.&#xA;&#xA;&#34;Not this time, queen,&#34; Gama menurunkan resleting celananya melepas rasa sesak yang ada dibawah sana. Rasanya gugup sekaligus aneh setiap kali Gama hendak melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Pria itu terlalu indah, lengan kekar yang membentuk bisepnya, perut kotak-kotak sixpack yang proporsional juga si adik kebanggaannya itu yang memang patut dibanggakan. Rasanya malu untuk mengagumi suaminya seperti ini, tapi seperti itulah yang selalu dirasakan Chelsea.&#xA;&#xA;Gama merendahkan lagi tubuhnya untuk meraih bibir Chelsea. Manis nan adiktif itu selalu menjadi bagian favorit Gama, entah mantra apa yang menyihirnya dari labium merah merekah itu. Tangan besarnya mengelus lagi pipinya, sampai tautan keduanya lepas dan mempertemukan dua iris legam yang penuh dengan tatapan cinta. Entah ada berapa banyak kupu-kupu yang berterbangan dibawah perutnya, baik itu Gama dan Chelsea, mereka tidak mau momen ini selesai cepat-cepat. Akankah malam ini bisa berlangsung panjang sampai tak mengenal hari esok?&#xA;&#xA;&#34;Aku jadi kepikiran deh,&#34; tiba-tiba Gama berucap, &#34;Ghaza udah tiga tahun, dia mau adek gak ya?&#34;&#xA;&#xA;Chelsea langsung memukul lengan kekar suaminya, &#34;Ish, kamu tuh!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bercanda sayang hahaha....&#34; Gama mengecup kening Chelsea, &#34;Tapi kalau memang rejekinya kita dapet anak lagi aku gak nolak kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangankan kamu, aku yang ngandung nanti juga gak bisa nolak!&#34; ketus Chelsea sampai membuat suaminya itu terbahak-bahak.&#xA;&#xA;Gama mulai melebarkan paha Chelsea, ia memposisikan tubuhnya lebih naik di atas tubuh Chelsea. Rambut cantik yang tampak acak-acakan dengan peluh yang mengalir dari kening istri tercinta membuatnya terus menggumamkan kalimat kagum, rasanya sangat amat tidak rela kecantikan Chelsea ini dibagi oleh siapapun. Gama memang suka mengalah, tapi dia akan berubah menjadi egois, serakah dan tak akan mau kalah kalau itu menyangkut soal Chelsea. &#xA;&#xA;Gamaliel Arkananta is a good boy, everyone knows that.&#xA;&#xA;But he can brings heaven to Chelsea, the one and only.&#xA;&#xA;&#34;Siap ya?&#34; Gama memberi aba-aba sebelum memasuki ke permainan inti. Tanpa sadar Chelsea sudah mencengkram kuat bahu Gama sampai meninggalkan jejak kuku, wanita itu mendesah panjang setelah kedua inti tubuh mereka saling mengisi dan kini mereka sudah menjadi satu, Gama menggerakkan pinggulnya dengan tempo perlahan sampai berangsur-angsur jadi cepat. &#xA;&#xA;&#34;Gama... Gama.... Ssshh....&#34; Chelsea mendesahkan nama Gama.&#xA;&#xA;&#34;Chel, you are so pretty...! Ah...!&#34; Gama terus menggerakkan pinggulnya, diikuti Chelsea yang berusaha menyeimbangkan permainan suaminya. Kepalanya pening sekaligus meresapi bagaimana nikmat duniawi ini berlangsung, suara peraduan kulit keduanya terus mengisi kesunyian kamar mereka bersama peluh dengan suhu ruangan yang semakin memanas. Suhu 20 derajat sudah tak lagi terasa bagi mereka. Gama masih terus mengejar puncak klimaksnya, dia membalikkan posisi tubuh Chelsea dan kembali memasukkan bagian intinya. Chelsea mendesah keras, meminta prianya untuk bergerak lebih cepat karena ia hampir sampai pada puncak nikmat duniawinya.&#xA;&#xA;&#34;Gama please don&#39;t stop... ah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak mau!&#34; Gama mendekat ke wajah Chelsea, &#34;I will fuck you all night long, Chel...!&#34;&#xA;&#xA;Terlukis senyum di wajah cantiknya, Gama justru mengecup lekukkan senyum itu dan melihat lagi ekspresi wajah Chelsea dari atas. Suara desahan mereka yang semakin memenuhi ruangan saling beradu. Bagian bawah mereka terasa semakin berkedut, dirasa puncaknya hampir sampai Gama memeluk erat tubuh istrinya begitupun Chelsea.&#xA;&#xA;&#34;Chel, i wanna cum!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gama...!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bareng ya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ga-Gamahh...!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Chelsea...!&#34;&#xA;&#xA;Puncak keduanya sampai bersamaan. Chelsea merasakan ada hangat yang mengalir deras di rahimnya, begitupun Gama yang melepas semua di dalam dan menetap di posisi nyamannya. Keduanya masih enggan untuk saling melepas, napas yang memburu juga hawa panas semakin terasa di kulit. Dengan gentle Gama menarik selimut tebal merahnya dan menutupi seluruh tubuh polos Chelsea sambil terkekeh melihat bagaimana istrinya itu mulai terkantuk-kantuk.&#xA;&#xA;&#34;Jangan tidur dulu, kita istirahat sebentar,&#34; ucap Gama membuat Chelsea melotot.&#xA;&#xA;&#34;Istirahat sebentar maksudnya apa?!&#34; pekik Chelsea.&#xA;&#xA;&#34;Ya lanjut ronde dua lah,&#34; jawab Gama dengan enteng dan dibalas oleh satu pukulan maut Chelsea di lengannya.&#xA;&#xA;&#34;Bener-bener lu ya, kan bisa dilanjutin besok pas anak-anak ke sekolah?!&#34; Chelsea cepat menutup mulutnya rapat-rapat, ia barusan memberikan sebuah ide brilian bagi Gama yang justru membuatnya menegup saliva bulat-bulat.&#xA;&#xA;&#34;Ide bagus tuh,&#34; ucap Gama, &#34;Morning activities kita sekalian exercise bareng ya?&#34;&#xA;&#xA;Chelsea tak sanggup lagi membalas, ia langsung bangun dari posisi tidurnya untuk berjalan ke kamar mandi bersama selimut merah yang menutupi tubuh polosnya.&#xA;&#xA;&#34;Woy selimutnya jangan dibawa kabur juga, dingin nih!!&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Chelsea tak berhenti mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh dan tanda-tanda kedatangan suaminya masih tak ada. Ia berlari memastikan kedua buah hatinya tertidur lelap, karena takut bahwa malam ini akan terjadi sebuah <em>unexpected situation.</em></p>

<p>Dari luar pria itu tampak sangat lembut, tenang dan diam tapi kalau sekali saja Chelsea memancing <em>singa yang tertidur</em> dalam jiwa Gama, jangan harap hari akan berakhir singkat. Bayangkan saja hanya karena satu kalimat yang bahkan Gama tuangkan sendiri di novelnya tapi Chelsea yang mengucapkan kalimat itu sebagai satu pancingan, Gama tak segan bergerak cepat untuk pulang.</p>

<p>Tatkala rasa gundah itu berlangsung panjang, suara mobil yang selesai diparkirkan depan garasi rumahnya refleks membuat Chelsea menegup salivanya bulat-bulat. Dari jendela tampak langkah suaminya itu terburu-buru dan ketukan pintu keras itu langsung disambut Chelsea.</p>

<p>“Hai,” Chelsea menyapa dengan kikuk, lekukkan senyuman miring terlukis di dua sudut bibir pria gagah di hadapannya, “Kamu capek banget ya abis perjalanan jauh? Aku abis bikinin kamu <em>chamomile tea</em> nih—”</p>

<p>Gama menarik pergelangan tangan Chelsea mendekat, kini hembusan napas hangat keduanya saling beradu dengan tatapan legam yang lekat itu saling mengunci. Kepala Chelsea membayangkan bagaimana ekspresi wajah Gama yang lembut dan hangat itu biasa ditampakkan seketika malam ini berubah menjadi gelap dan picik, <em>bagaikan seorang singa yang lapar dan menatap santapan malamnya penuh gairah.</em></p>

<p><em>“You said that you are thirsty, right?”</em> Jemari besar Gama mengelus pelan pipi istrinya dan perlahan menurun sampai tepat di bawah dagu, <em>“Can you explain what kind of thirsty, honey?”</em></p>

<p>“I-Itu aku baca <em>pick-up line</em> yang ada di novel terbaru kamu....” jawab Chelsea gemetar.</p>

<p><em>“Okay so....”</em> Gama mendekat ke telinga wanitanya, <em>“You want to do for the next part, queen?”</em> bisikkan sang tuan yang seduktif itu membuat aliran darah Chelsea berdesir panas. Tempo detak jantungnya sudah tak mengikuti irama, sampai satu tangannya diraih oleh Gama, dengan tatapan <em>smirk</em> menggodanya Gama mengecup punggung tangan sang istri.</p>

<p><em>“You want to take that as a question or my order?”</em></p>

<p><em>“What if i say nothing?”</em></p>

<p><em>“Then i will take that as order,”</em> Gama menggendong tubuh Chelsea bak tuan putri dan membawanya ke kamar mereka. Tangannya perlahan menidurkan Chelsea dan mengukung tubuh mungilnya dengan dua tangannya, dari bawah Chelsea menatap tiap perlakuan suaminya itu. Benar, apapun jawaban yang diberikan Chelsea tak ada gunanya, <em>yes or no, he will take it as yes.</em> Tangan Gama membuka satu per satu kancing kemeja putihnya, Chelsea hendak bangkit untuk membantu tapi justru tangannya ditepis, ia kembali menidurkan tubuh wanitanya sambil menatap tajam.</p>

<p>“Aku bisa sendiri,” Tubuh atletisnya terekspos di hadapan Chelsea, memacu detak jantung wanita itu lebih cepat seperti habis lari marathon. Gama merendahkan tubuhnya sampai dua bibir mereka bertemu untuk saling bertukar kehangatan. Mata Chelsea yang membesar perlahan memejam, satu tangan Gama yang menganggur digunakan untuk menyusup ke bawah <em>silk dress</em> Chelsea.</p>

<p>“<em>Wait</em>, kamu gak pakai bra ya?” tanya Gama sambil terkekeh.</p>

<p>“Emang daritadi gak kelihatan aku gak pakai apa-apa?” tanya Chelsea malu.</p>

<p>Gama tersenyum miring lagi, <em>“Well that&#39;s great.”</em></p>

<p>Jemari besarnya bertemu pada dua gundukan, Chelsea menahan napasnya. Ekspresi Chelsea dengan wajahnya yang memerah setiap tangan sang tuan berhasil menyentuh tiap inci tubuhnya adalah favorit Gama. Wanitanya tampak menahan desah, <em>“Just moan my name, you don&#39;t have to hold it, queen.”</em></p>

<p>Chelsea melepas desah panjangnya, “Gama....”</p>

<p><em>“Good girl.”</em></p>

<p>Gama kembali mengecup bibir merah nan adiktif milik wanita kasih, kecupan-kecupan hangat itu berubah menjadi menuntut dan penuh gairah. Chelsea menepuk-nepuk pundak Gama untuk meminta waktu sebentar meraup oksigen yang hampir habis. Wanita itu juga memberi kode kepada suaminya agar lampu kamar dimatikan lebih dulu, ia tidak suka berhubungan dalam keadaan terang seperti sekarang.</p>

<p>“Aku mau lihat kamu, Chel,” bujuk Gama.</p>

<p>“<em>Please, no</em>, nyalain aja lampu kristalnya kalau mau,” tolak Chelsea.</p>

<p>“Kenapaaa? Please kamu cantik banget sekarang soalnya....”</p>

<p>“Gama ish!” Chelsea mendengkus sebal.</p>

<p>“Yaudah iya, iyaa....” Gama bergerak mematikan lampu kamarnya lalu men-<em>setting</em> lampu kristal yang ditunjuk istrinya agar sedikit lebih terang. Chelsea mendesis lagi, akhirnya Gama menuruti apa kemauan wanitanya untuk meredupkan lampu kristalnya, tak lupa juga ia memastikan agar pintu kamar terkunci rapat. Mereka tidak mau kegiatan panasnya itu terhenti karena insiden konyol, bukan begitu?</p>

<p>“Ini bisa diturunin lagi gak suhu AC-nya? Panas banget,” pinta Chelsea lagi namun tak diindahkan suaminya.</p>

<p><em>“I will make this room more hotter, Chel,”</em> tanpa ba-bi-bu Gama meraup lagi bibir Chelsea sampai wanitanya sedikit terhentak. Tangan besar Gama mengelus pelan pucuk kepala Chelsea lalu menurun sampai pipi lembutnya. Chelsea mengikuti bagaimana permainan Gama dalam bertarung tukar saliva, lidah Gama menerobos masuk mulut Chelsea dan mengabsen tiap giginya begitupun lidah Chelsea yang ikut mengait di lidah Gama. Seperti yang dikatakan Gama barusan, suhu ruangan mereka menjadi lebih panas d