Aisyah, dan Kisahnya Kelak

Gadis mungil berjilbab merah muda yang saat ini sedang membawa motor vespa kuno-nya itu tengah bersenandung kecil. Menikmati perjalanannya bersama angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya, Aisyah Izzati, itulah namanya, ia tak sabar untuk membuat kue nanti bersama anak-anak pondok yang lain dengan bahan-bahan yang saat ini ia bawa.

Motornya berhenti begitu lampu lalu lintas di hadapannya berdentang warna merah, awalnya terlihat biasa-biasa saja sampai akhirnya...

TUK!

Tiba-tiba ada kaleng kosong yang menyentak pelipis matanya keras.

“Astagfirullah... HEH!!”

Aisyah tidak tinggal diam, gadis muda itu turun dari motornya lalu menghampiri sosok pengemudi mobil sport mewah berwarna hitam berkilau yang menjadi pelaku pelempar kaleng kosong barusan ke wajahnya.

“Mas! Kalo buang sampah tuh pada tempatnya dong! Gak tahu peraturan banget sih?!”

Pemuda berparas tampan itu tak menggubris, hanya menatap sinis Aisyah sejenak lalu memaling wajahnya lagi.

“Mas! Heh! Denger gak? Situ budeg ta?!”

Kesabaran Aisyah sudah mulai semakin menipis begitu ocehannya terus di anggap angin lalu oleh pemuda angkuh tersebut, saking kesalnya, Aisyah membalas melempar kaleng itu tepat di wajah pemuda itu hingga ia memekik dan melototi kedua mata Aisyah.

“Anjrit... WOY!!”

“Itu pembalasan! Tadi kamu juga ngelempar tu kaleng kena muka saya!”

Aisyah menghentakkan kakinya emosi, lalu cepat-cepat dia menancap gas motornya begitu lampu hijau sudah berdentang.

Duh, semoga aja aku gak ketemu lagi sama cowok tadi...


“Dari mana aja kamu, Syah?”

“Abis beli bahan-bahan kue.”

“Kenapa gak laporan ke aku?”

“Untuk apa aku laporan sama Bang Marco?”

Marco mengatup bibirnya rapat-rapat, kalian harus tahu satu hal, Aisyah memanglah sangat ceria dan usil tapi lain cerita kalau dengan laki-laki selain abangnya. Aisyah sering kali mengacuhkan bahkan tidak menganggap kehadiran cowok yang enggan ia ajak bicara.

“Kamu kok judes banget sih sekarang, kayaknya kemarin-kemarin kamu gak gini.”

Aisyah punya alasannya, ia jadi malas bicara dengan Marco semenjak abangnya itu terus-menerus melarangnya berinteraksi dekat dengan teman abangnya itu. Pasti Bang Marco ngomong yang aneh-aneh sama Abang ampe dia ngomel-ngomel gak jelas kayak kemarin! Malesin banget!

“Ntar ada tamu, buatin kopi ya.”

Aisyah gak balas, tapi ia menuruti pintanya Marco.

Suara mesin mobil terdengar jelas dari luar hingga membuat taruna itu bergegas lari menuju pintu depan pondok. Aisyah dengan telatennya masih sibuk memanaskan air tekonya dan menyeduh kopi sachet untuk 2 orang.

“Mbak Aisyah duh repot-repot gini biar Bude aja yang anterin...”

“Gapapa, Bude, biar Aisyah aja.”

Aisyah menutun nampan coklat dengan dua cangkir kopi di atasnya menuju ruang tamu.

“Wah kamu mahasiswa kedokteran ya? Sudah semester berapa ta?”

“Semester 5, Bang.”

“Udah banyak praktek itu, terus, terus gimana nih acaranya, kamu juga ikut kontribusi ntar?”

“Iya, nanti saya bersama teman-teman...”

Aisyah datang bersama kopi hangatnya membuat senyuman sumringah Marco langsung terlukis jelas.

“Naresh, kenalin nih adiknya Bang Haidar...”

Begitu kedua insan itu saling menatap...

“HAH KAMU?!”

Mereka berdua langsung tersontak bahkan Aisyah sampai menjatuhkan nampannya saking shock dengan pertemuan kedua yang tak terduga ini.

Pertemuan yang sangat tidak di inginkan.

“Kalian udah saling kenal—”

“NGAPAIN KAMU DISINI??!!“Aisyah memekik, dari ujung kepala sampai ujung kaki pemuda di hadapannya benar-benar masih melekat di kepala Aisyah.

Dia adalah laki-laki kurang ajar yang tadi melempar kaleng ke wajahnya.

“Oh jadi kamu adiknya Bang Haidar?“tanya Naresh dengan nada sinis

“Kamu siapanya Bang Haidar?!“Aisyah balik tanya dengan nada tinggi

Marco mengambil alih, “Dia mahasiswanya abang kamu, dek, namanya Naresh, dia anak kedokteran.” “Sebentar lagi kan ada ada acara—”

“Cepat pergi dari sini, saya gak mau lihat laki-laki kurang ajar ini lama-lama di pondok sini!”

Aisyah langsung menyambar nampannya yang tergeletak di lantai lalu mempercepat langkah kakinya meninggalkan ruang tamu dengan perasaan takut sekaligus marah yang bergejolak di hatinya.

“A-Ah maaf ya, maklum itu... Aisyah kan masih SMA, kayaknya lagi ada masalah makanya agak meledak-ledak emosinya... Suwun lho, Naresh.”

Naresh menggeleng cepat, “Ah enggak, gapapa, saya paham.”

Adiknya Bang Haidar ya... lucu juga. Gue jadi punya alasan untuk datang lagi kesini.